Mahasiswa buat panel akustik dengan limbah onggok

Buruh Redaksi, Sleman - Empat mahasiswa Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas GadjahMada (UGM) berhasil membuat panel akustik dari limbah onggok yang dihasilkan dari pengolahan tepung dari pohon aren. Inovasi ini memberikan pilihan alternatif panel akustik yang ramah lingkungan dan mencegah pencemaran serta dapat digunakan sebagai panel akustik peredam suara.

Empat mahasiswa FMIPA UGM yang berhasil membuat panel akustik dengan limbah onggok (Adit Bambang Setyawan)


Penelitian pemanfaatan limbah onggok menjadi panel akustik itu dilakukan oleh Ardhi Kamal Haq dan tiga rekannya dari FMIPA UGM, yakni Said Ahmad, Muhammmad Dwiki Destian Susilo, serta Pamela Chanifah Zahro di bawah bimbingan Dr. Mitrayana M.Si.

Ardhi mengungkapkan ide mengolah limbah onggok ini bermula dari keprihatinannya akan persoalan limbah onggok yang dihasilkan oleh UMKM pengolahan tepung dari pohon aren yang telah melebihi batas standar dari acuan yang ditetapkan pemerintah. Salah satunya seperti yang terjadi pada UMKM yang ada di Dusun Bendo, Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Setiap industri menghasilkan sekitar 600-700 kg limbah onggok per harinya.

“Limbah onggok apabila dibiarkan begitu saja akan mencemari lingkungan dengan kandungan BOD, COD, dan amonia yang tinggi. Permasalahan ini yang mengantarkan kami membuat trobosan baru untuk mengurangi nilai BOD, COD pada sungai disekitar UMKM,” kata Pamela Chanifah Zahro Selasa, (29/10)

Penelitian dan Riset panel akustik membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan riset lingkungan dan pengambilan data lapangan terkait kerusakan yang diakibatkan oleh limbah cairan maupun padatan. Dan harus dibuat sampel panel akustik untuk pengujian peredaman suara, kemudian dibuat lagi penelitian mengenai prototip [bentuk awal]  panel akustik setengah jadi.

“Pengembangan dan riset produk panel ini sudah dilakukan sejak September 2018, kemudian uji suara pada oktober 2018, dan penelitian mengenai prototip panel akustik setengah jadi pada September 2019, ” lanjut Pamela.

Panel akustik yang dikembangkan keempat mahasiswa ini berbahan utama serat fiber limbah onggok. Untuk memperoleh panel akustik ini limbah onggok dikeringkan di bawah sinar matahari terlebih dahulu. Berikutnya dilakukan pemisahan antara serat fiber dengan serbuk onggok. Sementara untuk perekat menggunakan tepung kanji.

Selanjutnya, limbah serat onggok dicampur dengan perekat dari tepung kanji lalu dicetak dan dipres pada tekanan 1.000 psi agar adonan menjadi lebih padat. Kemudian dilakukan pemanasan dalam oven selama 2 jam pada suhu 100°C.  Langkah terakhir dilakukan finishing panel akustik limbah onggok dan hasilnya diperoleh prototipe panel akustik dengan dimensi 29,7 cm x 42 cm.

Dwiki menambahkan panel akustik ini mampu menyerap suara dengan baik. Memiliki karakter impedansi atau penyerapan suara yang datang mencapai 95 persen.

“Hal ini artinya hampir semua suara yang datang teredam pada panel akustik ini,” ujarnya.

Pembuatan panel akustik oleh keempat mahasiswa UGM ini tidak hanya mampu mengatasi persoalan pencemaran lingkungan akibat limbah onggok. Namun, juga memberikan alternatif panel akustik yang ramah lingkungan. Sebab, panel akustik yang banyak beredar di pasaran masih memakai bahan sintetis berupa busa dan styrofoam.

Inovasi ini berhasil mengantarkan Ardhi Kamal Haq dan tim meraih medali emas dalam ajang Internasional 2nd World Innovation Technology Expo (WINTEX)  2019 yang diselenggarakan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), 9-12 Oktober 2019 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Harapannya panel akustik dari limbah onggok ini mampu mengurangi limbah onggok sekaligus menggantikan panel akustik yang beredar di pasaran dengan bahan yang ramah lingkungan,” Ujar Pamela.


Penulis: Adit Bambang Setyawan

Related

zzAdit 5182275466056680410

Post a comment

emo-but-icon

Hot in week

Follow by Email

item