Kekerasan Seksual di Kampus, Menurut Psikolog

Buruh Redaksi, Jogja - Kekerasan seksual di Kampus  menjadi isu yang dipandang sensitif dan masih belum terlalu mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak yang berwenang.

Ilustrasi kekerasan seksual (Adit Bambang Setiawan)

Rahmatika Romadhani Dosen Psikologi Klinis dan Psikologi Positif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengungkapkan Komnas perempuan mencatat ditahun 2001-2012 terdapat 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual disetiap harinya. Pada tahun 2012 tercatat 4336 kasus kekerasan seksual, sebanyak 2920 kasus terjadi diranah publik yang berbentuk perkosaan  dan pencabulan sebanyak 162 kasus. Ditahun 2013 kasus bertambah menjadi 5629 artinya dalam tiga jam saja terdapat dua perempuan yang mengalami kekerasan seksual.

“Itu data yang saya peroleh dari komnas perlindungan anak dan perempuan sehingga konteksnya masih luas tidak hanya di perguruan tinggi,” kata Rahmatika, Rabu, (30/10).

“Namun secara spesifik dilihat dari data yang saya peroleh dari media pada April 2019 terdapat 174 penyintas kekerasan seksual di kampus, yang berasal dari 79 kampus dari 29 kota di Indonesia yang kebanyakan berasal dari jawa,” Imbuhnya.

Data yang dikatakan baru puncak gunung es saja. Sejatinya dibalik data yang diketahui masih terdapat lebih banyak lagi korban yang memilih untuk diam tidak bisa Speak up. Secara psikologis hal ini sangat manusiawi di budaya Indonesia karena budaya di Indonesia cenderung masih patriaki. Seringkali korban merupakan seseorang dengan bergaining power yang lebih rendah dari pelaku. Ketika ingin speak up koban takut dengan berbicara akan mempengaruhi akademiknya.

“Belum lagi jika mendengar tanggapan pihak lain yang seringkali korban justru dipertanyakan dan seolah-olah korban yang mengundang peristiwa terjadi, belum lagi ketika dilakukan penyidikan, Mantan Kapolri Tito Karnavian pernah menanyakan [apakah korban menikmati ketika terjadi peristiwa tersebut],” ujar Rahmatika.

Permasalan keterbukaan Korban akan pengalamannya yang dirasa sulit untuk dipecahkan dan dideteksi. Untuk memecahkan hal seperti ini perlu ada keterbukaan agar orang bisa membantu. Memang berat bagi korban untuk terbuka, namun teman bisa memulai dengan menjadi seseorang yang bisa dipercaya oleh korban, mendengarkan ketika mereka bercerita dan peka terhadap perubahan yang teman kita alami.

“Yang paling penting disini sebenarnya perlunya informasi, terkait kemana harus mengadu. Banyak korban yang tidak tahu harus bercerita kemana, jadi kita harus menjadi kader yang mengenalkan lembaga-lembaga yang bisa memberikan bantuan,” kata Rahmatika.

Selain itu perlu menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya pengaduan, pelaporan dan penyelesaian psikologis dengan melakukan psikoedukasi terhadap masyarakat terkait kondisi para korban. Seringnya masyarakat malah memberikan judment negatif atau komentar miring itu merupakan gambaran bahwa masyarakat belum paham dengan kondisi psikologis korban. Jadi sosialisasi terhadap masyarakat juga diperlukan untuk menanggapi kasus seperti ini. Psikoedukasi bisa dilakukan dengan berbagai hal, seperti Iklan Layanan Masyarakat (ILM), atau tayangan-tayangan yang mengandung informasi ini.

Zira Atika Putri Salahsatu Mahasiswi kampus di Jogja mengatakan akhir-akhir ini di Kampus marak kejadian perempuan yang sering pulang sendirian dan tiba-tiba dihadang laki-laki  bermotor dan memegang bagian dada, empat hari yang lalu dibelakang fakultas juga ada pelaku meremas dada kemudian melarikan diri dan mengakibatkan korban menangis.

Masalah seperti ini perlu peran aktif dari banyak pihak yang pertama dari Individunya untuk selalus iaga dan menjaga diri kemudian dari aparat perlu meningkatkan keamanan.

“Kekerasan seksual menjadi sulit diungkap dan ditangani dibanding kekerasan lainnya, karena berkaitan dengan banyak nilai moral masyarakat,” kata Rahmatika.

Wanita dianggap simbol kesucian dan kehormatan sehingga dianggap aib saat mengalami kekerasan seksual, sering kali wanita dianggap penyebab dari kekerasan seksual yang ia alami sehingga hal itu seringkali membuat korban bungkam.

Rahmatika Romadhani Dosen Psikologi Klinis dan Psikologi Positif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghimbau ketika menjadi korban beranggaplah bahwa anda tidak bersalah bangun keyakinan bahwa pelaku yang bersalah. Dengan ini akan memberi kekuatan kepada korban untuk menghadapi dan memilih keputusan yang tepat untuk menyelesaikan kasus yang dihadapi.

Memang sangat manusiawi ketika mengalami kejadian tersebut korban merasa takut, cemas, bingung. Semakin tidak nyaman lagi jika pelaku merupakan orang terdekat atau orang yang memiliki power. Namun itu semua tetap harus dilawan, korban harus sadar bahwa ia memiliki hak atas dirinya dengan itu korban harus segera cari bantuan, menyimpan barang bukti, cerita denngan orang terpercaya, segera melapor, segera datang ke layanan kesehatan, dan segera datang kelembaga layanan terdekat.

Lembaga konseling akan membantu untuk membantu menghadapi tekanan psikologis yang dialami seperti trauma, mempengaruhi produktifitas diri, menammbah kepercayaan diri,  menjalin hubungan dengan orang lain. 

Penulis: Adit Bambang Setyawan

Related

zzAdit 2464177535642037332

Post a comment

emo-but-icon

Hot in week

Follow by Email

item