Mahasiswa IAIN Surakarta Adakan Nobar dan Diskusi Film Dokumenter Sexy Killers dari Watchdoc

Foto: Ibrahim Hasan

Sabtu, 13 April 2019 tepat pukul 20.00 WIB di Gedung C Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ruang 102. Seluruh peserta antusias menikmati penayangan film dokumenter Sexy Killers.


Buruh Redaksi, Sukoharjo- Mahasiswa IAIN Surakarta dari konsentrasi jurnalistik 2016 atas nama komunitas Buruh Redaksi (www.buruhredaksi.com) pada hari Sabtu, 13 April 2019 mengadakan acara Nobar dan Diskusi Film Dokumenter Sexy Killers tepatnya di Gedung C Fakultas Usuluddin dan Dakwah ruang 102. Acara dimulai tepat pukul 19.30 WIB. Dengan narasumber utama Ichwan Prasetyo selaku redaktur solopos dan dosen IAIN Surakarta di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Acara diadakan dalam rangka kegiatan jurnalistik karena film dokumenter dengan judul Sexy Killers ini merupakan film ke-12 sekaligus film terpanjang terakhir dari Ekspedisi Indonesia Biru (Watchdoc) atau yang lebih dikenal karya dari dua jurnalis legendaris yaitu Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta.

“Film ini berdurasi sekitar 88 menit yang membahas masalah eksploitasi batu bara. Yang menarik, eksploitasi batu bara ini berkaitan erat dengan pemilu yang akan kita laksanakan pada 17 April 2019 mendatang. Menurut saya pribadi isu yang diangkat dalam film dokumenter ini lebih menarik daripada sentimen agama, nasionalisme, dan gimik-gimik personal lainnya”, tutur Laudia Tysara selaku ketua panitia saat membuka acara.


Foto: Ibrahim Hasan
Sabtu, 13 April 2019 tepat pukul 22.00 WIB di Gedung C Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ruang 102. Seluruh peserta memperhatikan Ichwan Prasetyo selaku narasumber utama saat sedang membuka diskusi film dokumenter Sexy Killers.


“Dari sudut pandang jurnalistik, penayangan film ini jelas bukan atas kepentingan politik tetapi hanya momentum. Coba kalau film ini ditayangkan satu tahun yang lalu? Atau setelah pemilu? Tidak akan ada dampaknya. Penyajian film dengan momentum ini sudah biasa dalam bidang jurnalistik. Setelah acara ini terserah kalian mau golput atau apa, tapi saya memilih golput saja karena memang saya terakhir nyoblos itu tahun ’99. Tapi saya tegaskan lagi di film ini tidak ada kepentingan politik karena saya kenal betul bahwa Dandhy itu jurnalis yang punya kredibilitas tinggi,” jelas Ichwan selaku narasumber utama.

Acara ini dihadiri lebih dari 100 peserta dari berbagai jurusan di IAIN Surakarta bahkan dari luar kampus pun ada. Perasaan haru, sedih, dan marah terasa sekali saat film dokumenter ini diputar di layar. “Cukup menguras emosi”, kata Galuh Sekar Kinanti selaku moderator acara. Diskusi film dibuka dengan penjelasan dari narasumber utama dan ditutup dengan empat pernyataan dari sudut pandang peserta.



Penulis: Laudia Tysara

Related

zzLaudia 5429916244058331188

Post a comment

emo-but-icon

Hot in week

Follow by Email

item