Feminisme, Perempuan Sebagai Calon Di Tahun Politik


Buruhredaksi.com - Politik, saat membicarakan kata ini yang terlintas di pikiran kita adalah kekuasaan dan kebijakan. Kekuasaan, bisa disebut sebagai kekuatan. Sebab dengan kekuasaan apapun dapat dengan mudah dilakukan. Kebijakan, berkaitan dengan sistem yang dibuat oleh pemerintah guna memeperbaiki suatu tatanan pemerintahan yang dirasa perlu dibenahi dan tidak layak lagi digunakan di masa itu. Jika dilihat dari nilai kebaikkan, akan ada banyak versi. Tergantung dari kalangan mana kebijakan itu dilihat. Terkadang kalangan pengusaha dan pejabat merasa bahwa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sangat adil. Tapi bagi masyarakat bawah kebijakan yang dibuat malah menambah beban kehidupan mereka.

Feminisme, Perempuan Sebagai Calon Di Tahun Politik
Buruhredaksi.com


            Tahun politik selalu menjadi pusat perhatian tersendiri dikalangan masyarakat. Partai-partai politik menyiapkan kader-kader terbaiknya untuk beradu visi misi agar dapat menduduki kursi pemerintahan. Setiap partai ingin memberikan informasi mengenai siapa calon-calon pemimpin pemerintahan yang diusungnya. Berbagai usaha dilakukan partai politik untuk melakukan kampanye terhadap calon yang sedang diusungnya. Janji-janji disebar sedemikian lebar, kata-kata meyakinkan disiapkan.

            Tak jarang dalam kasus ini perempuan mengambil posisi sebagai calon yang akan duduk di kursi pemerintahan dan diusungkan oleh partai politik. Dalam teori feminisme jelas dikatakan bahwa adanya kesamaan hak-hak perempuan dengan kaum laki-laki dalam hal politik, ekonomi, dan sosial. Teori ini berkembang sejak 1890-an, jadi tak heran jika pada saat sekarang ini beberapa perempuan memilih duduk dan beradu visi misi dalam pemerintahan. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa teori feminisme adalah gerbang pembuka bagi para perempuan untuk ikut terlibat dalam politik pemerintahan. Meski partisipasi perempuan dalam dunia politik sudah menjadi hal yang diperbolehkan bahwa sudah menjadi hal yang biasa. Tetap saja ada kendala dalam proses pencalonan menjadi seorang yang dapat duduk di kusri pemerintahan. Salah satu kendala adalah kebiasaan masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dari perempuan, sehingga muncul anggapan bahwa seorang laki-laki adalah sosok paling layak menjadi seorang pemimpin.

            Feminisme telah membuka jalan bagi para perempuan untuk ikut dalam politik pemerintahan, tinggal bagaimana perempuan-perempuan itu memaksimalkan peran mereka dalam berpolitik khususnya ketika di tahun politik. Di Indonesia sendiri bisa dilihat sedikit dari kaum perempuan yang ikut dalam dunia politik. Kendala yang mereka alami kebanyakan sama seperti yang dijelaskan di atas, sehingga rasa percaya diri itu hilang. Padahal jika tidak ada perempuan yang ikut dalam politik pemerintahan, bagaimana kaum perempuan itu menyuarakan pendapat mereka terkait hak-hak yang perlu mereka dapatkan.

Penulis : Refi. M
Editor  : Putri Ginting
Ilustrator : Dyah F.

Related

zzRefi 758942126923420247

Post a comment

emo-but-icon

Hot in week

Follow by Email

item