Awas Berita Hoaks Berbau Politik


Buruhredaksi.com - Media pada saat ini dan jaman dahulu sudah sangat jauh berbeda dan semakin berkembang. Semuanya karena seiring berjalannya waktu manusia terus saja melakukan banyak inovasi untuk terus menemukan hal-hal baru untuk memudahkan kehidupan manusia. Dari yang awalnya hanya bisa menggunakan lisan, mulai bisa menulis. Dari awalnya menggunakan daun-daun kering menjadi sebuah kertas, dan kini bisa menulis di alat yang jauh lebih canggih seperti laptop. Media berkembang bukan untuk membodohi kita tapi harusnya membuat kita semakin cerdas dalam menggunakan media dan benar-benar memudahkan hidup kita.


ILUSTRASI/DYAH F.


Namun, tidak dengan sekarang ini seiring berkembangnya media justru malah banyak orang pintar yang keblinger. Bagaimana tidak, media yang seharusnya digunakan sebagaimana mestinya untuk menebar kebaikan-kebaikan saat ini malah banyak digunakan untuk menebar hoaks dan pembodohan pikiran manusia.  Disadari atau tidak, media sosial contohnya, saat ini media sosial  menjadi "momok" yang terasa betul menebarkan ketakutan, sejak hingar bingar Pilpres 2014, berlanjut ke Pilkada DKI 2017, dan berlanjut ke Pilpres 2019 nanti. Media sosial dikuasai oleh manusia penebar ketakutan dan pengganggu kenyamanan. Kita ditakut-takuti di media sosial, kita seolah olah didatangi malaikiat pencabut nyawa. Kita ditakut-takuti para manusia penebar hoaks, takut akan ditindas penguasa, takut hidup sengsara, dan masih banyak ketakutan yang disebarkan. Dengan ketakutan-ketakutan itu membuat Otak kita mengalami kematian tidak bisa digunakan untuk mengolah informasi dan berfikir. Seolah-olah hanya gejolak emosi yang menyelimuti otak kita.

Kita kembali kepada pemikiran manusia jaman kakek nenek kita dahulu, mereka hanya berfikir untuk mencari rasa nyaman, rasa aman dan hidup dengan tentram tanpa ada hal yang harus dikhawatirkan walau harus percaya pada kebohongan. Menelan mentah-mentah setiap informasi yang kita terima, apapun bentuknya asal membuat kita merasa aman dan merasa tenang. Dan seperti inilah wajah politik negara kita saat ini yang semakin lama tidak ada bedanya seperti para suporter bola, dimana seseorang  menjadi fanatik. Dan menganggap tim sepakbola lawan pasti salah, (titik) itu memang sudah paten tidak bisa diganggu dan digugat. Hal inilah yang di manfaatkan oleh para penebar hoaks untuk meracuni otak kita, yang menjelek-jelekkan kubu lawan dan membagus-baguskan kubu kawan.

Yang difikirkan Cuma sekadar menang atau kalah. Mereka mengira menang adalah segalanya. Padahal sebenarnya pikiran-pikiran seperti itu adalah pikiran yang salah banget. Di dalam elite politik persaingan dari para calon dari dulu sampai sekarang cuma begitu-begitu saja, tidak ada kawan dan lawan yang kekal abadi sepanjang masa. Konflik biasa, konsensus dan kompromi pun cair-cair saja. Mendadak cari Wapres Ulama dan santri atau mendadak cari Wapres artis dan penyanyi terkenal. Permainan-permainan seperti itu adalah hal biasa. Maka dari itu, ayolah berhenti jadi penikmat-penikmat ketakutan dari media sosial. Berhenti menjadi  pecanduan rasa takut. Cari informasi yang benar dari kedua kubu politik. Mulailah dengan tonton semua chanel Televisi, baca semua artikel dari media online dan cetak. Jangan mau dibodohi lewat media sosial!. Nikmati sajalah drama-dramanya dengan santai bersama segelas kopi hitam kental dan singkong goreng, jangan mau diadu dengan kabar-kabar bohong dari orang-orang yang ingin mengadu domba.

Sebenarnya tugas media massa yang bertanggung jawab adalah menjadi jembatan yang baik agar rakyat bisa lebih cepat memahami. Mungkin saat ini para fanatisme masih bisa membuat emosi kita berkibar-kibar bak bendera merah putih. Tapi, satu saat nanti sudah tidak akan bisa lagi kalau rakyat lebih pintar, tidak asal telan tanpa dikupas. Siapa tahu sebenernya busuk. Pilih Jokowi ataupun Prabowo itu ibarat Indomie goreng ataupun Indomie rebus. Cukup sederhana saja, itu urusan seleraku, seleramu, selera kita. Alangkah lebih baiknya kumpulkan informasi yang benar, lalu coblos sesuai hati nurani. Gampang to, Ojo digawe ribet.!!!

Oleh: Adit Bambang Setyawan
Editor : Ahmad Junaidi


Related

zzAdit 6741211053851329085

Post a comment

emo-but-icon

Hot in week

Follow by Email

item